Thursday, August 2, 2007

MENANGIS

Sehabis sesiangan bekerja di sawah-sawah serta disegala macam yang diperlukan oleh desa rintisan yang mereka dirikan jauh di pedalaman, Abah Latif mengajak para santri untuk sesering mungkin bersholat malam.

Senantiasa lama waktu yang diperlukan, karena setiap kali memasuki kalimat " iyyaka na'budu " Abah Latif biasanya lantas terhenti ucapannya, menangis tersedu-sedu bagai tak berpenghabisan.

Sesudah melalui perjuangan batin yang amat berat untuk melampaui kata itu, Abah Latif akan berlama-lama lagi macet lidahnya mengucapkan " wa iyyaka nasta'in" .

Banyak di antara jamaah yang turut menangis, bahkan terkadang ada satu dua yang lantas ambruk ke lantai atau meraung-raung.

"Hidup manusia harus berpijak, sebagaimana setiap pohon harus berakar," berkata Abah Latif seusai wirid bersama, " Mengucapkan kata-kata itu dalam Al-fatihah pun harus ada akar dan pijakannya yang nyata dalam kehidupan. 'Harus' di situ titik beratnya bukan sebagai aturan, melainkan memang demikianlah hakikat alam, di mana manusia tak bisa berada dan berlaku selain di dalam hakikat itu."

"Astaghfirulloh, asraghfirulloh..," gemeremang mulut para santri.

" Jadi, anak-anakku," beliau melanjutkan, " apa akar dan pijakan kita dalam mengucapkan kepada Alloh ..iyyaka na'budu?"

"Bukankah tak ada salahnya mengucapkan sesuatu yang toh baik dan merupakan bimbingan Alloh itu sendiri, Abah?" bertanya seorang santri.

"Kita tidak boleh mengucapkan kata, Nak, kita hanya boleh mengucapkan kehidupan."

"Belum jelas benar bagiku, Abah?"

" Kita dilarang mengucapkan kekosongan, kita hanya diperkenankan mengucapkan kenyataan."

"Astaghfirulloh, asraghfirulloh..," geremang mulut para santri.

Dan Abah Latif meneruskan, " Sekarang ini kita mungkin sudah pantas mengucapkan iyyaka na'budu.KepadaMu aku menyembah. Tetapi kaum Muslimin masih belum memiliki suatu kondisi keumatan untuk layak berkata kepadaMu kami menyembah, na'budu."

"Al-Fatihah haruslah mencerminkan proses dan tahapan pencapaian sejarah kita sebagai diri pribadi serta kita sebagai ummatan wahidah. Ketika sampai di kalimat na'budu, tingkat yang harus kita telah capai lebih dari abdullah, yakni khalifatulloh. Suatu maqom yang dipersyarati oleh kebersamaan kamu muslim dalam menyembah Alloh di mana penyembahan itu diterjemahkan ke dalam setiap bidang kehidupan. Mengucapkan iyyaka na'budu dalam sholat mustilah memiliki akar dan pijakan di mana kita kaum muslim telah membawa urusan rumah tangga, urusan perniagaan, urusan sosial dan politik serta segala urusan lain untuk menyembah hanya kepada Alloh. Maka anak-anakku, betapa mungkin dalam keadaan kita dewasa ini lidah kita tidak kelu dan air mata tak bercucuran tatkala harus mengucapan kata-kata itu?"

"Astaghfirulloh, asraghfirulloh..," gemeremang para santri.

"Al-fatihah hanya pantas diucapkan apabila kita telah saling menjadi khalifatulloh di dalam berbagai hubungan kehidupan. Tangis kita akan sungguh-sungguh tak tak berpenghabisan karena dengan mengucapkan wa iyyaka nasta'in, kita telah secara terang-terangan menipu Tuhan. Kita berbohong kepada-Nya berpuluh-puluh kali dalam sehari. Kita nyatakan bahwa kita meminta pertolongan hanya kepada Alloh, padahal dalam sangat banyak hal kita lebih banyak
bergantung kepada kekuatan, kekuasaan dan mekanisme yang pada hakikatnya melawan Alloh."

Astaghfirulloh, asraghfirulloh..," geremang mulut para santri.

"Anak-anakku, pergilah masuk ke dalam dirimu sendiri, telusurilah perbuatan-perbuatanmu sendiri, masuklah ke urusan-urusan manusia di sekitarmu, pergilah ke pasar, ke kantor-kantor, ke
panggung-panggung dunia yang luas: tekunilah, temukanlah salah benarnya ucapan-ucapanku kepadamu. Kemudian peliharalah kepekaan dan kesanggupan untuk tetap bisa menangis. Karena alhamdulillah, seandainya sampai akhir hidup kita hanya diperkenankan untuk menangis karena keadaan-keadaan itu : airmata saja pun sanggup mengantarkan kita kepada-Nya."
(Emha Ainun Najib)

Baca Selengkapnya...

Friday, July 27, 2007

Tuhan Yang Maha Jowo

Kalau Anda sering bergaul dengan orang Luar Negeri, terutama auslander yang tergolong 'modern'dan 'rasional' -- mungkin saja sering Anda sampai pada kesimpulan begini : "Pantas dulu kita bangsa Jawa ini gampang dijajah. Lha wong kita ini terlalu baik".
Terlalu 'baikan' sama orang. Sangat menyambut. Akomodatif. Suka menyuguh dan memberikan apa saja yang kita bisa kepada para tamu. Itu namanya "jowo". Kalau pelit, itu "ora jowo". Tentulah. Karena kita semua memang pengagum Tuhan, dan berusaha meniru sifat-sifatNya. Bukankah Tuhan Maha Jowo?

Bayangkanlah kalau Allah mengurangi jowoNya, misalnya pagi ini kurangi anugerah Nya kepada Anda dengan mengambil mata atau telinga yang nempel di tubuh kita dan disimpan kembali di gudang Nya.
Lha, ya begitulah, beberapa lama ini saya menemani tamu monco saya. Tak habis-habisnya saya nraktir, membelikan lurik, batik, berbagai sovenir, T-shirt, dan lain-lain. Sampai pada suatu hari, saya berdebat dengannya menemukannya sebagai seorang materialis sejati.
Materialis itu bukan dalam arti gila materi, tapi ia melihat seluruh kehidupan ini hanya sebagai materi. Ia menertawakan filsafat, tak percaya kepada jiwa dan mengenali nilai-nilai hanya sejauh menyangkut struktur keberadaan materi. Maka manusia dilihatnya hanya sebagai perut, dan segala uurusan politik hanyalah berkisar pada distribusi nasi. Maka ia fanatik kepada orang miskin dan 'sentimen' kepada orang kaya.
Saya mencoba berontak dengan menunjukkan kepadanya bahwa saya ini lebih melarat dibanding dia yang punya gaji tetap dan besar dan bisa sering tamasya ke luar negeri dan bisa pelit.
Maka kalau saya mentraktirnya ini itu, semata-mata karena filsafat hidup saya, kerena rasa sosial (bukan solidaritas rasional) dan karena nilai cinta kemanusiaan.
Nilai-nilai itu ternyata tak ada maknanya bagi materialisme yang menjadi tulang punggung kehidupannya. Saya jadi anyel.
Saya katakan kepadanya bahwa rakyat Indonesia bisa bertahan hidup karena filsafat, karena ketahanan moral dan nilai-nilai kejiwaan. Kalau tak punya itu, dengan takaran materi yang amat rendah, mereka sudah hancur hidupnya. Dengan nilai-nilai itu mereka tetap sanggup memanusiakkan dirinya di tengah derita kemelaratan.
Karena si monco ono memang tak tahu banyak tentang manusia Indonesia, maka dia tak mampu membantah argumentasi saya. Saya lantas merasa iba, kasihan, dan segera saya traktir lagi.(Emha Ainun Najib)

Baca Selengkapnya...

Monday, July 23, 2007

Buang Sial ke Singapura

Alkisah, bersepakatlah pengusaha yang muda tiga sekawan untuk ber-weekand ke singapura. Yang satu, Tigor, berasal dari Batak, lainnya, Sutrimo, asli Jawa, lainnya lagi, Abdul, dari Madura.
Sabtu sore ngumpul di Cengkareng, langsung bareng ke Singapura, dan paginya, atau setidaknya siang harinya, balik lagi ke Jakarta. Soal apa alasan kepergian mereka kepada istri masing-masing, Ente pasti cukup profesional untuk mengarang sendiri. Terserah saja apa, tergantung bagaimana Ente sendiri biasanya mengelabuhi istri Ente.
Memang ruginya orang punya istri adalah bahwa ia punya kemungkinan untuk menyeleweng. Kalau bujangan, pasti bersih dari penyelewengan. Kalau Ente seorang suami, begitu lirikan Ente ke seorang cewek mengandung sedikit saja virus napsu, berarti Ente menyeleweng dari istri dan salah-salah bisa dituduh berzina mata oleh sebuah sekte agama.
Tapi kalau Ente bujangan, biar melirik sampai melorok, biar melilit sampai melotot: kan tidak menyeleweng namanya. Jadi, lelaki yang kawin, ia bukan saja sendang menggantikan kemerdekaan dengan penjara, tapi juga memperangkap diri dalam kans penyelewengan. Kok mau-maunya!
Tetapi apakah tiga pengusaha muda kita ini sendang merancang penyelewengan di Singapura? Wallahu' alam. Tanyakan saja langsung kepada Tuhan yang tahu persis apa isi hati mereka, sebab kalau tiga suami muda itu yang Ente tanyai, pasti tidak ngaku.
Alhasil sampailah mereka di Singapura. Singkat kata, mereka langsung cari hotel bintang tujuh. Tapi rupanya semua orang se-Asean ini sedang mengincar Singapura untuk bermalam Minggu. Sehingga di mana-mana hotel penuh. Tiga pengusaha muda kita ini hanya mendapatkan satu kamar, itu pun tingkat 63. Sudah mepet sama lapisan ozon. Dan gampang diserempet oleh lalu-lalang makhluk angkasa luar.
"Tapi kenapa susah? Untung masih dapat kamar. Toh kita tidak ke sini untuk tidur. Toh semalaman nanti kita akan cari hiburan di luar!" kata Sutrimo, mengeluarkan kebiasaan etnisnya untuk selalu merasa untung dalam situasi macam apapun.
"Ah, kau ini!" sahut Tigor. "Tingkat 63! Jauhnya itu! Lebih jauh dibanding Jakarta-Singapura, bah!"
"Lho, masih untung kita dapat kamar!"
"Masih untung! Masih untung! Kalau ban mobil kau meledak, kau bilang 'Masih untung bukan as-nya yang patah!' Kalau as mobil kau patah, Kau bilang 'Masih untung bukan tulang punggung kita yang patah!"
"Lha maunya kamu dapat kamar di tingkat berapa?" Tiba-tiba Abdul nyeletuk.
"Ya 3 kek, 4 kek, atau 5 okelah!" jawab Tigor.
"Kalau begitu kita pindahkan saja kamar kita ke tingkat yang kamu senangi."
"Sialan kau!"
"Atau tingkat 63 ini kita sepakati saja sebagai tingkat 3."
Tapi memang tak ada pilihan lain. Dan karena itu kita singkat saja cerita ini: mereka OK di tingkat 63, menaruh koper kecil mereka masing-masing, pesan makanan kecil, dan telepon sana-sini untuk berorientasi menentukan ke klab malam mana yang paling manis untuk bermalam Minggu.
Kesepakatan dicapai. Usai makan mereka langsung turun ke lobi, ambil taksi, berangkat cari restoran yang harganya jangan sampai murah, sambil nunggu waktu sebelum ke klab malam.
Kemudian segala sesuatunya ditumpahkan. Keringat diperas. Gejolak-gejolak kelelakian dihempaskan. Minum-minum. Ajojing. Ganti Hostess beberapa kali. Pokoknya segala kemungkinan kehidupan malam di tempat itu mereka habiskan dan tuntaskan.
Sehingga ketika dinihari tiba, loyo beratlah mereka. Mereka balik ke hotel dengan badan Hollyfield di ronde 10 dan 11 pertarungannya dengan Bowe. Dan tatkala tiba di hotel, badan mereka menjadi lebih parah bagaikan tubuh Razor Ruddock dihancurkan oleh Lenox Lewis.
"Lift-nya kebetulan macet," kata Sutrimo kalem.
"Mbahmu!" sahut Tigor menjawa-jawakan diri.
"Ya, jalan kaki. 'Kit-sedikit nanti 'lak sampai!" sambung Abdul.
Mereka terdudu di dekat lift. Runding. Mereka berpendapat bahwa harus diciptakan situasi bersama agar perjalanan menuju tingkat 63 tidak terlalu melelahkan. Akhirnya sepakat: setiap orang harus bercerita, mendongeng atau apa saja, sepanjang 21 tingkat. Jadi tiga orang pas 63 tingkat.
Naiklah mereka. Lemes bukan main. Kaki bagai tanpa tulang dan tidak berotot. Langkah amat berat. Tangan mereka terus berpegangan di tanganan tangga atau tembok.
Pertama giliran Sutrimo berkisah tentang pertandingan sepakbola antara kesebelasan Keraton Solo melawan Yogya. Setiap kali striker Solo berhasil membawa bola ke depan kiper Yogya, sang priyayi Ngayogja ini justru minggir, membungkuk-kan badan, sebelah tangannya memegang burung sementara tangan lainnya mempersilahkan: "Monggo Mas, dimasukkan saja bolanya, ndak usah pakewuh!"
Si striker Solo berhenti dan menjawab: "Ah, nanti saja, gampang. Kami tidak tergesa-gesa, kok."
Kejadian yang sama berlangsung ketika striker Yogya berhadapan dengan kiper Solo. Monggo-monggoan dan nanti saja nanti saja. Akhirnya pertandingan berakhir draw, sehingga diselenggarakan sarasehan di tengah lapangan, dihadiri oleh ofisial kedua kesebelasan, seluruh pengurus PSSI yang hadir, plus pak RW, Danramil, Penatar P4, dan Ketua Klompencapir. Keputusannya: Juara bersama! Sesuai dengan asas yang ada.
Sejumlah kisah yang lain dituturkan oleh Sutrimo. Kemudian memasuki tingkat 22, giliran Tigor bercerita. Misalnya tentang pidato tokoh masyarakat Batak dalam suatu upacara sangat resmi memperingati wafatnya Sisingamangaraja sang pahlawan nasional.
"Hari ini," katanya dengan penuh kekhusukan, "Kita memperingati hari wafatnya pahlawan kita Sisingamangaraja yang dibunuh oleh Belanda sialan itu...!"
"Wah, payah dia itu!" komentar Sutrimo, "Wong pidato resmi kok pakai ngumpat segala!"
Demikianlah perjalanan pendakian mereka ke tingkat 63 menjadi tak terlalu melelahkan. Letih sih, letih, tapi dengan melempar-lemparkan konsentrasi ke macam-macam hal yang lucu-lucu, kesadaran bahwa mereka sedang letih menjadi terkurangi.
Apalagi ketika di atas tingkat 43, Abdul mengisahkan tentang pengendara motor di Sampang yang marah-marah kepada polisi yang menilangnya di jalan karena melanggar dan ternyata tidak punya SIM.
Memang dia menyodorkan SIM."Tapi ini bukan SIM saudara! Nama dan fotonya lain!" kata polisi.
Naik pitamlah pengendara motor itu: "Lho Bapak ini kok neh-aneh! Lha wong yang saya pinjami SIM saja 'dak marah kok malah Bapak yang marah!"
Asyiklah mereka mendengarkan kisah-kisah Abdul. Tapi Abdul ini sendiri malah keasyikan. Mereka sudah sampai di tingkat 63, sudah berdiri di depan pintu kamar, Abdul tidak juga berhenti bercerita. Terus saja nerocos.
"Sudah, bah! Bukalah pintu! Mau tidur aku!" protes Tigor tak sabar.
"Nanti dulu," jawab Abdul, "ceritaku belum selesai..."
"Ya, cepat selesaikan saja sekarang," kata Sutrimo.
"Begini..." kata Abdul pelan, "akhir cerita saya ini sungguh-sungguh Happy Ending..."
"Bagaimana itu!" desak Tigor.
"Kunci kamar kita tertinggal di mobil..."(Emha Ainun Najib)

Baca Selengkapnya...

Wednesday, July 18, 2007

Kiai Bejo, Kiai Bejo, Kiai Hoki

Ada kesombongan orang berkuasa. Ada kesombongan orang kaya. Ada kesombongan orang pandai. Juga ada kesombongan orang saleh.

Kita awali dengan suatu identifikasi elementer. Semua orang adalah rakyat, tapi kalau ada penguasa, maka yang kita maksud dengan rakyat tentulah mereka yang dikuasai. Teruskan: rakyat adalah yang miskin, rakyat adalah yang bodoh, dan rakyat adalah yang selalu belum saleh.

Identifikasi yang lebih ke tingkat praksis: selalu rakyat adalah pihak yang diatur oleh pihak yang berkuasa. Kenyataan ini punya peluang sangat besar untuk bertentangan dengan asas hakiki demokrasi, serta sangat mencurigakan dipandang dari rasionalitas dan proporsi managemen kenegaraan dan kebangsaan. Seorang Polisi bisa terjebak untuk menganggap dirinya adalah penggenggam hukum, dan rakyat adalah wilayah terapan hukum.

Kemudian konteks kesombongan orang kaya: dalam wacana pembangunan di hampir semua kalangan, selalu rakyat adalah pihak yang disebut harus dan sedang diberdayakan dari kelemahan ekonomi, dientaskan dari kemiskinan, dan diselamatkan dari keterpurukan.

Pandangan ini sangat laknat terhadap kenyataan bahwa sesungguhnya rakyat adalah pemilik kekayaan sangat melimpah dari tanah rahmat Tuhan Republik Indonesia, namun kekayaan rakyat itu dijadikan langganan perampokan oleh setiap penguasa. Dan setiap penguasa itu selalu tidak tahu diri berlagak menjadi pahlawan yang akan melakukan perubahan dari kondisi miskin rakyat menuju tidak miskin.

Menurut parameter teknis statistik perekonomian dunia rakyat Indonesia memang rata-rata miskin, namun kenyataannya rakyat adalah pengupaya ekonomi yang luar biasa di bawah atmosfir kejahatan negaranya, sehingga upaya-upaya berekonomi kerakyatan itulah yang berjasa mempertahankan negeri ini dari kebangkrutan total.

Kegiatan utama kebanyakan pejabat adalah mengacaukan stabilitas kesejahteraan rakyat, mentikusi administrasi keuangan negara milik rakyat, mencuri dengan berjamaah dan dengan modus-modus yang makin tidak kasat mata. Namun "ubet" ekonomi rakyat, "budaya kakillima" yang cair dan longgar, menciptakan semacam "pernapasan dalam" yang membuat rakyat terus survive meskipun hampir tak ada supply udara dari negara.

Puluhan kali, bahkan mungkin ratusan atau ribuan kali, para penjahat penunggang negara melakukan penipuan, penilapan dan pencurian besar-besaran atas harta rakyat yang diamanatkan managemennya kepada negara. Namun ribuan kali pula rakyat sukses mempertahankan diri mereka dari kebangjrutan total.

Meskipun demikian siapapun saja yang sedang berpamrih ingin berkuasa dan ketika kemudian benar-benar berkuasa: selalu dengan kemantapan dan keangkuhan yang luar biasa, menyatakan akan dan sedang menyelamatkan rakyat dari kebangkrutan.

Kemudian konteks kesombongan orang pandai. Tak ada subyek yang lebih nyata yang selalu diasosiasikan sebagai golongan penyandang kebodohan, melebihi rakyat. Rakyat adalah orang bodoh, karena setiap kali orang menjadi pandai, ia menjumpai dirinya bukan rakyat lagi.

Hampir setiap orang yang diam-diam menggolongkan dirinya sebagai orang pandai, merancang dirinya untuk melakukan pemandaian atas rakyat. Pejabat memberi penerangan terhadap kegelapan dan kebodohan rakyat. Calon-calon sarjana mengajari rakyat selama kuliah kerja nyata. Kaum intelektual menyebar wacana-wacana untuk mendobrak kesempitan wawasan rakyat, Duta-duta informasi dan komunikasi menabur ilmu dan pengetahuan agar rakyat melek dunia.

Bahkan mahasiswa masuk kuliah hari pertama bisa terjebak oleh anggapan diam-diam di dalam dirinya bahwa mulai hari itu ia melangkah meninggalkan kebodohan rakyat yang kemarin ia masih menjadi bagian darinya. Kapan ada rezim tumbang, harus mahasiswa yang direkognasi sebagai pelaku utamanya. Sebab "agent of change" mustahil pelakunya adalah rakyat.

Dan akhirnya yang paling khianat, yang paling menyakitkan hati, yang mungkin Tuhanpun tidak rela: adalah tradisi kesombongan orang saleh.

Rakyat dikasih pengajian tiap hari seakan-akan rakyatlah yang paling jahat hatinya dan paling kotor hidupnya. Malam rakyat diulamai, pagi mereka dipasturi, siang mereka dipendetai, sore mereka dibegawani. Rakyat dibimbing agar beriman seakan-akan rakyat adalah siswa-siswi taman kanak-kanak. Rakyat disantuni, diajari bagaimana menata kalbu, padahal tak ada pakar penanggung derita yang tingkat keahlian dan kemampuannya melebihi rakyat.

Kalau Quran menyebut "berimanlah kepada Allah", yang dituju adalah rakyat, bukan ustadz atau ulama. "Wahai orang-orang kafir" -- itu kemungkinan besar rakyat, mustahil Pak Kiainya. "Dekatkanlah dirimu kepada orang saleh" -- maksud Tuhan tentu hendaknya rakyat mendekat-dekat pada Ustadz, bukan Ustadz mendekat-dekat dan belajar kepada ummat.

Bahkan dai, muballigh, ustadz, ulama, dijunjung-junjung -- namun dengan parameter industri dan ukuran feodalisme, untuk akhirnya ditertawakan dan ditinggalkan oleh rakyat yang memiliki feeling dan jenis pengetahuan sendiri tentang siapa ulama siapa pencoleng, siapa ustadz siapa bakul pasar.

Ada semacam feodalisme naluriah dalam psikologi kita, mungkin karena tak pernah sembuh dari trauma penjajahan fisik dan nilai yang tak pernah usai dalam kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan kita. Kalau mendengar kata "rakyat", tanpa sengaja langsung terdapat perasaan look down dan menemukan yang bernama rakyat itu berada di dasar jurang dari peta nilai yang kita kenal tentang kemanusiaan dan kebudayaan.

Saya menduga naluri feodalisme, kelas dan 'kasta' itu tidak menjadi kikis misalnya oleh pengalaman intelektual atau kesadaran demokrasi atau egaliterianisme. Misalnya, rakyat "yang paling rakyat" adalah pembantu rumahtangga. Tidak sedikit contoh bagaimana seorang profesor doktor, pejabat tinggi atau ulama -- memperlakukan pembantu rumah benar-benar sebagai 'pembantu rumah tangga' yang hampir berkonsep mirip perbudakan. Rumahtangga awam bisa terbukti bersikap lebih egaliter, santai dan demokratis kepada pembantu rumahtangga.

Salah satu latar belakangnya mungkin karena peningkatan pendidikan masih tidak mandiri dari stratifikasi kelas budaya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin menumbuhkan perasaan lebih unggul dan lebih tinggi derajatnya sebagai manusia. Dunia pendidikan tidak punya konsern mendasar terhadap nilai kedewasaan sosial, kerendahan hati kemanusiaan, kematangan jiwa atau demokrasi kebudayaan.

Karena kecurangan feodal juga kemudian: TKI-TKW, umpamanya, "rakyat yang paling rakyat" lainnya, kita pandang sebagai faktor noda dan kehinaan sebagai bangsa. TKW kita jadikan sukucadang utama kalimat penghinaan atas diri kita sendiri. Kita nyeletuk dengan hati yang merasa nyaman dan puas: Negeri lain mengekspor produk-produk teknologi bergengsi peradaban tinggi, sementara negara kita mengekspor TKI-TKW.

Dan kita tidak melakukan apapun yang lain kecuali menghina dan merendahkan TKI-TKW, anak-anak kita sendiri. Tidak menolong mereka, tidak membela mereka dalam kasus-kasus mengerikan yang menimpa mereka -- sebuah LSM di Jakarta melaporkan sekurang-kurangnya ada 3 juta kasus TKI-TKW kita di luar negeri tanpa satupun pernah dibereskan oleh pihak yang berkewajiban dan digaji untuk pekerjaan dan upah seumur hidup yang antara lain bertugas melingkupi penanganan nasib TKI-TKW.

Pekerjaan kita hanya menghina mereka sambil pada saat bersamaan memanfaatkan mereka di rumahtangga kita masing-masing. Kehidupan sehari-hari rumahtangga kita sangat tergantung pada mereka, upah yang kita bayarkan kepada mereka adalah jumlah gaji yang tidak pantas untuk penghidupan manusia, plus bonus penghinaan di dalam hati, cara berpikir dan tradisi perilaku budaya kita atas mereka.

Dengan begitu kita adalah serendah-rendahnya dan sehina-hinanya manusia, sehingga karena itu pula maka kita memiliki keperluan untuk menghina mereka. Semakin hina dan rendah jiwa seseorang, semakin tinggi kebutuhannya untuk memperhinakan sesamanya. Memang secara psikologis demikian itulah formula survival kejiwaannya.

Bahkan kalau mereka pulang ke tanah air, sudah kita persiapkan lembaga dan birokrasi yang khusus melakukan dua pekerjaan hina. Pertama, menyiapkan terminal dan gate khusus untuk memperhinakan mereka. Kedua, policy untuk memperhinakan diri kita sendiri dengan cara memeras uang jerih payah mereka bekerja hina bertahun-tahun di negeri orang.

Pemerasan itu berlangsung eskalatif dari tahap ke tahap. resmi maupun liar. Dan puncak kehinaan kita adalah memperlakukan para koruptor keluar masuk bandara sebagai Raja, memperlakukan mahasiswa dan pelajar yang membelanjakan uang ke luar negeri sebagai pahlawan, sementara TKI-TKW yang balik kampung menguras uang dari luar negeri untuk sumbangan besar kepada devisa negara -- justru kita injak-injak martabatnya.

Bangsa yang hina. melahirkan generasi demi generasi hina, memilih dan menjunjung presiden dan menteri-menteri hina, mengutus dan menggaji perwakilan-perwakilan hina, sambil menyusu dan mempekerjakan orang-orang yang dihina, menikmati kerja dan makanan anak-anak terhina itu sambil terus memelihara di hati dan otak hinaan-hinaan atas mereka.

Pada hakekat kenyataan dan kenyataan hakikinya, rakyat adalah Ibu Bapak sejarah yang kita TKITKWkan sepanjang massa. Rakyat adalah TKI-TKW di genggaman tangan dan di bawah injakan kaki para pemegang tongkat sejarah, baik tongkat kekuasaan politik, modal, wacana dan informasi. Rakyat yang ditipu terus menerus. Yang dibodohi dari era ke era. Yang dipecundangi dari periode ke periode. Yang namanya disebut, dikomoditikan, diatasnamakan, oleh setiap yang sedang berkepentingan untuk menguasai mereka, kemudian melupakan dan melecehkan mereka begitu kekuasaan itu tergenggam di tangannya.

Yang tidak pernah digubris hak-hak dasarnya. Yang kemuliaan posisinya dipakai sebagai mahkota kekuasaan, namun dalam praktek pundak mereka ditunggangi dan kepala harkat demokrasi mereka dibenamkan ke bagian bawah rendaman cairan air liur teori-teori dan pidato-pidato demokrasi.

Rakyat yang hanya punya satu kegiatan kenegaraan: yaitu dikempongi oleh kekuasaan, gigi-gigi kekuatan sejarahnya dibikin rampal sehingga mulut kedaulatannya kempong. Rakyat yang bisa dipukuli kapan saja, dikelabuhi pagi hari diakali sore hari, dininabobo siang hari dicuri miliknya malam hari.

Rakyat yang diperhinakan oleh gaya kepemimpinan yang memakai merah darah mereka sebagai gincu. Rakyat yang dibodohi sehingga akhirnya tidak lagi mengenal kebodohan. Rakyat yang terus menerus dan terlalu lama dihina sehingga akhirnya benar-benar menjadi hina tanpa tersisa sedikitpun kesadaran dan pengetahuan bahwa mereka hina.

Jangankan membedakan mana kehinaan mana kemuliaan di dalam kompleksitas kehidupan berbangsa, sedangkan sekedar bermain sepakbola kalau kalah tak tahu kenapa kalah dan kalau menang salah menemukan sebabnya kenapa menang.

Visi, wawasan, ilmu, identifikasi dan pemetaan nilai-nilai dan realitas, telah menjadi suatu jenis senirupa impressionis instan. Kehidupan intelektual yang menjadi muatan utama komunikasi dan informasi sudah mengalami pecahan-pecahan, pengepingan-pengepingan, syndrome of disconnected awareness. Bahkan dalam mengomentari pertandingan tinju, dalam satu ronde kita mengalami pergantian parameter sampai 4-5 kali, saking tidak mendasar dan tidak menentunya prinsip ilmu pertinjuan kita.

Bangsa yang sekaligus mengalami ketersesatan intelektual, politis, kultural, spiritual, bahkan ketersesatan teknis untuk soal-soal yang sangat sederhana. Mencari Tuhan, yang didatangi dukun. Mencari ulama, yang dikejar pedagang. Mencari orang pandai, yang ditunggu pelawak. Mencari soto enak, pergi ke tukang tambal ban. Mencari pemimpin, yang dijunjung bintang film. Mencari bintang, yang diburu meteor. Mencari tokoh, yang disongsong perampok. Plastik diwarnai keemasan, emas dijadikan ganjal almari. Nasi diperlakukan sebagai krupuk, terasi didewakan sebagai makanan utama.

Bangsa yang kehilangan parameter hampir di segala bidang. Bangsa yang memilih langsung presidennya namun tanpa melewati pijakan substansi demokrasi. Bangsa yang ditenggelamkan oleh air bah informasi tiap hari namun semakin tidak mengerti apa yang seharusnya mereka mengerti. Bangsa yang sudah kehilangan ukuran apakah mereka sedang maju atau mundur, apakah mereka sedang dihina ataukah dimuliakan, apakah mereka pandai atau bodoh, apakah mereka menang atau kalah. Bangsa yang peta identifikasi dirinya makin terhapus, sebagai manusia, sebagai rakyat atau bangsa.

Bangsa yang -- sesekali -- menjalankan hukum, namun tanpa kesadaran dan hikmah hukum, tanpa kesanggupan untuk mengapresiasi nikmatnya berkebudayaan hukum. Bangsa yang sangat tampak secara wadag sedang menjalankan ajaran Agama, namun hampir tidak terdapat pada perilakunya dialektika berpikir Agama, tidak ada kausalitas mendasar antara input dan output nilai Agama. Bahkan terdapat diskoneksi ekstrem antara praksis kehidupan beragama dengan hakekat Tuhan.

Yang paling beruntung dalam kehidupan sepanjang ada sejarah ummat manusia adalah pemerintah Indonesia. Karena semakin hari rakyatnya semakin tidak paham apakah pemerintahnya berhasil atau gagal. Semakin tidak memiliki kepekaan dan sasmita apakah mereka dicintai atau tidak oleh pemerintahnya. Semakin kehilangan ukuran apakah dari pemerintahnya mereka sedang memperoleh kesetiaan dan semangat pengabdian, ataukah pengkhianatan dan proses-proses penghancuran.

Sungguh siapa saja yang duduk dalam struktur pemerintahan negeri ini adalah "Kiai Bejo", "Kiai Untung" atau "Kiai Hoki". Orang yang mendapatkan keuntungan meskipun tanpa bekerja. Salah satu pameo membuat rumus: orang bodoh kalah oleh orang pandai, orang pandai kalah oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh orang kaya, orang kaya kalah oleh orang "bejo".

Setiap pemerintah Indonesia tidak terlibat dalam konstelasi pameo itu, sebab mereka sekaligus pandai, berkuasa, kaya dan "bejo".(Emha Ainun Najib)

Baca Selengkapnya...

Tuesday, July 17, 2007

Abdul Manan dan Abdul Wadud Arrombengy

Kaum folkloris, di waktu senggangnya, suka bercerita iseng tentang yang lucu-lucu dari berbagai etnik. Misalnya tentang orang Madura, satu dari suku-suku di muka bumi yang saya kagumi.
Orang suka 'sentimen' terhadap mereka. Padahal mereka itu paling jago argumentasi. Bahkan dalam diplomasi, mereka bisa jauh lebih dingin dibanding politisi Jawa.

Misalnya kalau anda rewel terhadap harga jualannya, ia malah berkata: "Soalnya saya ini baru saja keluar dari penjara."
Anda bertanya, "Lho apa hubungan antara harga dengan penjara?"
Ia jawab, "Ya ndak usah dihubungkan".
Anda penasaran, "Kenapa bapak dipenjara?"
Ia menjawab dengan nada amat kalem, "Ya karena nylurit orang kaya sampeyan ini......" Maka sebaiknya anda secepatnya lari tunggang-langgang.

Atau ketika anak Madura itu ditangkap Polisi karena naik motor tak punya SIM, Polisi membentak, "Kok ini SIM-nya orang lain?"
Ia menjawab, "Lho yang saya pinjami SIM saja ndak marah, kok Pak Polisi marah!".

Atau yang paling saya kagumi, ketika seorang tukang becak Madura melanggar lampu merah di perempatan sehingga sebuah mobil dari jalan silang kerepotan ngerem dan maki-maki: "Tukang becak goblog! sudah tahu merah kok jalan terus saja! Goblok! Goblok!".
Sang tukang becak tenang-tenang saja menjawab acuh tak acuh "Yaa kalau ndak goblog ndak mbecak saya Pak..."
Padahal saya tahu persis tidak ada bangsa yang goblog. Setidaknya kegoblogan tidak bisa menjadi ciri dari suatu suku bangsa, apalagi Madura. Bis yang saya langgani, kalau pulang ke Jombang dari Yogya, adalah bis paling bagus, sopirnya terampil tapi tertib, tidak rakus, amat disukai penumpang dan kami tahu itu berasal dari sebuah perusahaan dengan sistem manajemen dan dan moralitas bagus yang dipimpin secara amat santun oleh seorang juragan Madura.

Abdul Manan, asli Sumenep itu, memang tukang becak, seperti juga rekannya dari Jawa, Makasar, Bali dan lain-lain. Tapi Abdul Wadud sejak bertahun-tahun yang lalu meningkatkan statusnya sebagai tukang becak menuju status yang lebih berekonomi tinggi. Ia himpun modal dan akhirnya berhasil jualan barang rombengan kaki lima yang omsetnya ratusan ribu.

Pada suatu hari kena gusur, barang-barangnya 'dimusnahkan' dan ia tenang-tenang saja, "Ya balik mbecak lagi, Mas. Lha saya ini memang orang kecil, yang nggusur itu orang besar".
Yang paling saya kagumi, tapi sekaligus saya prihatinkan, ia tidak sedih oleh keadaan itu. Ia biasa saja, dan kembali menghimpun modal. Ia mampu mengikhlaskan barang-barangnya 'dimusnahkan' menjadi beberapa ratus ribu rupiah, di tangan orang-orang besar.(Emha Ainun Najib)

Baca Selengkapnya...