Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Wednesday, October 3, 2012

Allah, 2014

Sejak jauh sebelum hari Pilgub Jakarta, sejumlah teman saya tanya “lebih ok mana Foke-Nara atau Jokowi-Ahok?” muncul labirin dan mosaik jawaban.

Ada jawaban “close-up” : si FN bagusnya di sini, kacaunya di situ; si JA hebatnya begini, memblenya begitu — tentu saja semua dalam skema nilai-nilai baku kebangsaan dan kenegaraan: kualitas kepemimpinan, kematangan manajemennya, kreativitas pembangunannya, watak sosial budayanya, juga kadar kasih sayang kerakyatannya.

Saturday, September 29, 2012

Merindu Nasionalisasi Indonesia

Berangkat dari Jokowi ke Indonesia, esai ini bukan tentang pemilihan gubernur, politik Indonesia, atau baik-buruknya pemerintah dan pejabat. Inilah kerinduan manusia Indonesia.

Seusai Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta, bangsa Indonesia kini menggerakkan kaki sejarahnya menuju 2014. Namun, imaji mereka terhadap 2014 sangat buram dan penuh kesemrawutan.

Bangsa Indonesia hampir mustahil menemukan calon pemimpin yang berani pasang badan, misalnya untuk nasionalisasi Freeport. Bahkan, menghadapi kasus seringan Century, bangsa kita tidak memiliki budaya politik kerakyatan untuk mendorongnya maju atau menarik mundur.

Thursday, August 2, 2007

MENANGIS

Sehabis sesiangan bekerja di sawah-sawah serta disegala macam yang diperlukan oleh desa rintisan yang mereka dirikan jauh di pedalaman, Abah Latif mengajak para santri untuk sesering mungkin bersholat malam.

Senantiasa lama waktu yang diperlukan, karena setiap kali memasuki kalimat " iyyaka na'budu " Abah Latif biasanya lantas terhenti ucapannya, menangis tersedu-sedu bagai tak berpenghabisan.

Sesudah melalui perjuangan batin yang amat berat untuk melampaui kata itu, Abah Latif akan berlama-lama lagi macet lidahnya mengucapkan " wa iyyaka nasta'in" .

Friday, July 27, 2007

Tuhan Yang Maha Jowo

Kalau Anda sering bergaul dengan orang Luar Negeri, terutama auslander yang tergolong 'modern'dan 'rasional' -- mungkin saja sering Anda sampai pada kesimpulan begini : "Pantas dulu kita bangsa Jawa ini gampang dijajah. Lha wong kita ini terlalu baik".
Terlalu 'baikan' sama orang. Sangat menyambut. Akomodatif. Suka menyuguh dan memberikan apa saja yang kita bisa kepada para tamu. Itu namanya "jowo". Kalau pelit, itu "ora jowo". Tentulah. Karena kita semua memang pengagum Tuhan, dan berusaha meniru sifat-sifatNya. Bukankah Tuhan Maha Jowo?

Bayangkanlah kalau Allah mengurangi jowoNya, misalnya pagi ini kurangi anugerah Nya kepada Anda dengan mengambil mata atau telinga yang nempel di tubuh kita dan disimpan kembali di gudang Nya.
Lha, ya begitulah, beberapa lama ini saya menemani tamu monco saya. Tak habis-habisnya saya nraktir, membelikan lurik, batik, berbagai sovenir, T-shirt, dan lain-lain. Sampai pada suatu hari, saya berdebat dengannya menemukannya sebagai seorang materialis sejati.
Materialis itu bukan dalam arti gila materi, tapi ia melihat seluruh kehidupan ini hanya sebagai materi. Ia menertawakan filsafat, tak percaya kepada jiwa dan mengenali nilai-nilai hanya sejauh menyangkut struktur keberadaan materi. Maka manusia dilihatnya hanya sebagai perut, dan segala uurusan politik hanyalah berkisar pada distribusi nasi. Maka ia fanatik kepada orang miskin dan 'sentimen' kepada orang kaya.
Saya mencoba berontak dengan menunjukkan kepadanya bahwa saya ini lebih melarat dibanding dia yang punya gaji tetap dan besar dan bisa sering tamasya ke luar negeri dan bisa pelit.
Maka kalau saya mentraktirnya ini itu, semata-mata karena filsafat hidup saya, kerena rasa sosial (bukan solidaritas rasional) dan karena nilai cinta kemanusiaan.
Nilai-nilai itu ternyata tak ada maknanya bagi materialisme yang menjadi tulang punggung kehidupannya. Saya jadi anyel.
Saya katakan kepadanya bahwa rakyat Indonesia bisa bertahan hidup karena filsafat, karena ketahanan moral dan nilai-nilai kejiwaan. Kalau tak punya itu, dengan takaran materi yang amat rendah, mereka sudah hancur hidupnya. Dengan nilai-nilai itu mereka tetap sanggup memanusiakkan dirinya di tengah derita kemelaratan.
Karena si monco ono memang tak tahu banyak tentang manusia Indonesia, maka dia tak mampu membantah argumentasi saya. Saya lantas merasa iba, kasihan, dan segera saya traktir lagi.(Emha Ainun Najib)

Wednesday, July 18, 2007

Kiai Bejo, Kiai Bejo, Kiai Hoki

Ada kesombongan orang berkuasa. Ada kesombongan orang kaya. Ada kesombongan orang pandai. Juga ada kesombongan orang saleh.

Kita awali dengan suatu identifikasi elementer. Semua orang adalah rakyat, tapi kalau ada penguasa, maka yang kita maksud dengan rakyat tentulah mereka yang dikuasai. Teruskan: rakyat adalah yang miskin, rakyat adalah yang bodoh, dan rakyat adalah yang selalu belum saleh.

Identifikasi yang lebih ke tingkat praksis: selalu rakyat adalah pihak yang diatur oleh pihak yang berkuasa. Kenyataan ini punya peluang sangat besar untuk bertentangan dengan asas hakiki demokrasi, serta sangat mencurigakan dipandang dari rasionalitas dan proporsi managemen kenegaraan dan kebangsaan. Seorang Polisi bisa terjebak untuk menganggap dirinya adalah penggenggam hukum, dan rakyat adalah wilayah terapan hukum.

Kemudian konteks kesombongan orang kaya: dalam wacana pembangunan di hampir semua kalangan, selalu rakyat adalah pihak yang disebut harus dan sedang diberdayakan dari kelemahan ekonomi, dientaskan dari kemiskinan, dan diselamatkan dari keterpurukan.

Pandangan ini sangat laknat terhadap kenyataan bahwa sesungguhnya rakyat adalah pemilik kekayaan sangat melimpah dari tanah rahmat Tuhan Republik Indonesia, namun kekayaan rakyat itu dijadikan langganan perampokan oleh setiap penguasa. Dan setiap penguasa itu selalu tidak tahu diri berlagak menjadi pahlawan yang akan melakukan perubahan dari kondisi miskin rakyat menuju tidak miskin.

Menurut parameter teknis statistik perekonomian dunia rakyat Indonesia memang rata-rata miskin, namun kenyataannya rakyat adalah pengupaya ekonomi yang luar biasa di bawah atmosfir kejahatan negaranya, sehingga upaya-upaya berekonomi kerakyatan itulah yang berjasa mempertahankan negeri ini dari kebangkrutan total.

Kegiatan utama kebanyakan pejabat adalah mengacaukan stabilitas kesejahteraan rakyat, mentikusi administrasi keuangan negara milik rakyat, mencuri dengan berjamaah dan dengan modus-modus yang makin tidak kasat mata. Namun "ubet" ekonomi rakyat, "budaya kakillima" yang cair dan longgar, menciptakan semacam "pernapasan dalam" yang membuat rakyat terus survive meskipun hampir tak ada supply udara dari negara.

Puluhan kali, bahkan mungkin ratusan atau ribuan kali, para penjahat penunggang negara melakukan penipuan, penilapan dan pencurian besar-besaran atas harta rakyat yang diamanatkan managemennya kepada negara. Namun ribuan kali pula rakyat sukses mempertahankan diri mereka dari kebangjrutan total.

Meskipun demikian siapapun saja yang sedang berpamrih ingin berkuasa dan ketika kemudian benar-benar berkuasa: selalu dengan kemantapan dan keangkuhan yang luar biasa, menyatakan akan dan sedang menyelamatkan rakyat dari kebangkrutan.

Kemudian konteks kesombongan orang pandai. Tak ada subyek yang lebih nyata yang selalu diasosiasikan sebagai golongan penyandang kebodohan, melebihi rakyat. Rakyat adalah orang bodoh, karena setiap kali orang menjadi pandai, ia menjumpai dirinya bukan rakyat lagi.

Hampir setiap orang yang diam-diam menggolongkan dirinya sebagai orang pandai, merancang dirinya untuk melakukan pemandaian atas rakyat. Pejabat memberi penerangan terhadap kegelapan dan kebodohan rakyat. Calon-calon sarjana mengajari rakyat selama kuliah kerja nyata. Kaum intelektual menyebar wacana-wacana untuk mendobrak kesempitan wawasan rakyat, Duta-duta informasi dan komunikasi menabur ilmu dan pengetahuan agar rakyat melek dunia.

Bahkan mahasiswa masuk kuliah hari pertama bisa terjebak oleh anggapan diam-diam di dalam dirinya bahwa mulai hari itu ia melangkah meninggalkan kebodohan rakyat yang kemarin ia masih menjadi bagian darinya. Kapan ada rezim tumbang, harus mahasiswa yang direkognasi sebagai pelaku utamanya. Sebab "agent of change" mustahil pelakunya adalah rakyat.

Dan akhirnya yang paling khianat, yang paling menyakitkan hati, yang mungkin Tuhanpun tidak rela: adalah tradisi kesombongan orang saleh.

Rakyat dikasih pengajian tiap hari seakan-akan rakyatlah yang paling jahat hatinya dan paling kotor hidupnya. Malam rakyat diulamai, pagi mereka dipasturi, siang mereka dipendetai, sore mereka dibegawani. Rakyat dibimbing agar beriman seakan-akan rakyat adalah siswa-siswi taman kanak-kanak. Rakyat disantuni, diajari bagaimana menata kalbu, padahal tak ada pakar penanggung derita yang tingkat keahlian dan kemampuannya melebihi rakyat.

Kalau Quran menyebut "berimanlah kepada Allah", yang dituju adalah rakyat, bukan ustadz atau ulama. "Wahai orang-orang kafir" -- itu kemungkinan besar rakyat, mustahil Pak Kiainya. "Dekatkanlah dirimu kepada orang saleh" -- maksud Tuhan tentu hendaknya rakyat mendekat-dekat pada Ustadz, bukan Ustadz mendekat-dekat dan belajar kepada ummat.

Bahkan dai, muballigh, ustadz, ulama, dijunjung-junjung -- namun dengan parameter industri dan ukuran feodalisme, untuk akhirnya ditertawakan dan ditinggalkan oleh rakyat yang memiliki feeling dan jenis pengetahuan sendiri tentang siapa ulama siapa pencoleng, siapa ustadz siapa bakul pasar.

Ada semacam feodalisme naluriah dalam psikologi kita, mungkin karena tak pernah sembuh dari trauma penjajahan fisik dan nilai yang tak pernah usai dalam kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan kita. Kalau mendengar kata "rakyat", tanpa sengaja langsung terdapat perasaan look down dan menemukan yang bernama rakyat itu berada di dasar jurang dari peta nilai yang kita kenal tentang kemanusiaan dan kebudayaan.

Saya menduga naluri feodalisme, kelas dan 'kasta' itu tidak menjadi kikis misalnya oleh pengalaman intelektual atau kesadaran demokrasi atau egaliterianisme. Misalnya, rakyat "yang paling rakyat" adalah pembantu rumahtangga. Tidak sedikit contoh bagaimana seorang profesor doktor, pejabat tinggi atau ulama -- memperlakukan pembantu rumah benar-benar sebagai 'pembantu rumah tangga' yang hampir berkonsep mirip perbudakan. Rumahtangga awam bisa terbukti bersikap lebih egaliter, santai dan demokratis kepada pembantu rumahtangga.

Salah satu latar belakangnya mungkin karena peningkatan pendidikan masih tidak mandiri dari stratifikasi kelas budaya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin menumbuhkan perasaan lebih unggul dan lebih tinggi derajatnya sebagai manusia. Dunia pendidikan tidak punya konsern mendasar terhadap nilai kedewasaan sosial, kerendahan hati kemanusiaan, kematangan jiwa atau demokrasi kebudayaan.

Karena kecurangan feodal juga kemudian: TKI-TKW, umpamanya, "rakyat yang paling rakyat" lainnya, kita pandang sebagai faktor noda dan kehinaan sebagai bangsa. TKW kita jadikan sukucadang utama kalimat penghinaan atas diri kita sendiri. Kita nyeletuk dengan hati yang merasa nyaman dan puas: Negeri lain mengekspor produk-produk teknologi bergengsi peradaban tinggi, sementara negara kita mengekspor TKI-TKW.

Dan kita tidak melakukan apapun yang lain kecuali menghina dan merendahkan TKI-TKW, anak-anak kita sendiri. Tidak menolong mereka, tidak membela mereka dalam kasus-kasus mengerikan yang menimpa mereka -- sebuah LSM di Jakarta melaporkan sekurang-kurangnya ada 3 juta kasus TKI-TKW kita di luar negeri tanpa satupun pernah dibereskan oleh pihak yang berkewajiban dan digaji untuk pekerjaan dan upah seumur hidup yang antara lain bertugas melingkupi penanganan nasib TKI-TKW.

Pekerjaan kita hanya menghina mereka sambil pada saat bersamaan memanfaatkan mereka di rumahtangga kita masing-masing. Kehidupan sehari-hari rumahtangga kita sangat tergantung pada mereka, upah yang kita bayarkan kepada mereka adalah jumlah gaji yang tidak pantas untuk penghidupan manusia, plus bonus penghinaan di dalam hati, cara berpikir dan tradisi perilaku budaya kita atas mereka.

Dengan begitu kita adalah serendah-rendahnya dan sehina-hinanya manusia, sehingga karena itu pula maka kita memiliki keperluan untuk menghina mereka. Semakin hina dan rendah jiwa seseorang, semakin tinggi kebutuhannya untuk memperhinakan sesamanya. Memang secara psikologis demikian itulah formula survival kejiwaannya.

Bahkan kalau mereka pulang ke tanah air, sudah kita persiapkan lembaga dan birokrasi yang khusus melakukan dua pekerjaan hina. Pertama, menyiapkan terminal dan gate khusus untuk memperhinakan mereka. Kedua, policy untuk memperhinakan diri kita sendiri dengan cara memeras uang jerih payah mereka bekerja hina bertahun-tahun di negeri orang.

Pemerasan itu berlangsung eskalatif dari tahap ke tahap. resmi maupun liar. Dan puncak kehinaan kita adalah memperlakukan para koruptor keluar masuk bandara sebagai Raja, memperlakukan mahasiswa dan pelajar yang membelanjakan uang ke luar negeri sebagai pahlawan, sementara TKI-TKW yang balik kampung menguras uang dari luar negeri untuk sumbangan besar kepada devisa negara -- justru kita injak-injak martabatnya.

Bangsa yang hina. melahirkan generasi demi generasi hina, memilih dan menjunjung presiden dan menteri-menteri hina, mengutus dan menggaji perwakilan-perwakilan hina, sambil menyusu dan mempekerjakan orang-orang yang dihina, menikmati kerja dan makanan anak-anak terhina itu sambil terus memelihara di hati dan otak hinaan-hinaan atas mereka.

Pada hakekat kenyataan dan kenyataan hakikinya, rakyat adalah Ibu Bapak sejarah yang kita TKITKWkan sepanjang massa. Rakyat adalah TKI-TKW di genggaman tangan dan di bawah injakan kaki para pemegang tongkat sejarah, baik tongkat kekuasaan politik, modal, wacana dan informasi. Rakyat yang ditipu terus menerus. Yang dibodohi dari era ke era. Yang dipecundangi dari periode ke periode. Yang namanya disebut, dikomoditikan, diatasnamakan, oleh setiap yang sedang berkepentingan untuk menguasai mereka, kemudian melupakan dan melecehkan mereka begitu kekuasaan itu tergenggam di tangannya.

Yang tidak pernah digubris hak-hak dasarnya. Yang kemuliaan posisinya dipakai sebagai mahkota kekuasaan, namun dalam praktek pundak mereka ditunggangi dan kepala harkat demokrasi mereka dibenamkan ke bagian bawah rendaman cairan air liur teori-teori dan pidato-pidato demokrasi.

Rakyat yang hanya punya satu kegiatan kenegaraan: yaitu dikempongi oleh kekuasaan, gigi-gigi kekuatan sejarahnya dibikin rampal sehingga mulut kedaulatannya kempong. Rakyat yang bisa dipukuli kapan saja, dikelabuhi pagi hari diakali sore hari, dininabobo siang hari dicuri miliknya malam hari.

Rakyat yang diperhinakan oleh gaya kepemimpinan yang memakai merah darah mereka sebagai gincu. Rakyat yang dibodohi sehingga akhirnya tidak lagi mengenal kebodohan. Rakyat yang terus menerus dan terlalu lama dihina sehingga akhirnya benar-benar menjadi hina tanpa tersisa sedikitpun kesadaran dan pengetahuan bahwa mereka hina.

Jangankan membedakan mana kehinaan mana kemuliaan di dalam kompleksitas kehidupan berbangsa, sedangkan sekedar bermain sepakbola kalau kalah tak tahu kenapa kalah dan kalau menang salah menemukan sebabnya kenapa menang.

Visi, wawasan, ilmu, identifikasi dan pemetaan nilai-nilai dan realitas, telah menjadi suatu jenis senirupa impressionis instan. Kehidupan intelektual yang menjadi muatan utama komunikasi dan informasi sudah mengalami pecahan-pecahan, pengepingan-pengepingan, syndrome of disconnected awareness. Bahkan dalam mengomentari pertandingan tinju, dalam satu ronde kita mengalami pergantian parameter sampai 4-5 kali, saking tidak mendasar dan tidak menentunya prinsip ilmu pertinjuan kita.

Bangsa yang sekaligus mengalami ketersesatan intelektual, politis, kultural, spiritual, bahkan ketersesatan teknis untuk soal-soal yang sangat sederhana. Mencari Tuhan, yang didatangi dukun. Mencari ulama, yang dikejar pedagang. Mencari orang pandai, yang ditunggu pelawak. Mencari soto enak, pergi ke tukang tambal ban. Mencari pemimpin, yang dijunjung bintang film. Mencari bintang, yang diburu meteor. Mencari tokoh, yang disongsong perampok. Plastik diwarnai keemasan, emas dijadikan ganjal almari. Nasi diperlakukan sebagai krupuk, terasi didewakan sebagai makanan utama.

Bangsa yang kehilangan parameter hampir di segala bidang. Bangsa yang memilih langsung presidennya namun tanpa melewati pijakan substansi demokrasi. Bangsa yang ditenggelamkan oleh air bah informasi tiap hari namun semakin tidak mengerti apa yang seharusnya mereka mengerti. Bangsa yang sudah kehilangan ukuran apakah mereka sedang maju atau mundur, apakah mereka sedang dihina ataukah dimuliakan, apakah mereka pandai atau bodoh, apakah mereka menang atau kalah. Bangsa yang peta identifikasi dirinya makin terhapus, sebagai manusia, sebagai rakyat atau bangsa.

Bangsa yang -- sesekali -- menjalankan hukum, namun tanpa kesadaran dan hikmah hukum, tanpa kesanggupan untuk mengapresiasi nikmatnya berkebudayaan hukum. Bangsa yang sangat tampak secara wadag sedang menjalankan ajaran Agama, namun hampir tidak terdapat pada perilakunya dialektika berpikir Agama, tidak ada kausalitas mendasar antara input dan output nilai Agama. Bahkan terdapat diskoneksi ekstrem antara praksis kehidupan beragama dengan hakekat Tuhan.

Yang paling beruntung dalam kehidupan sepanjang ada sejarah ummat manusia adalah pemerintah Indonesia. Karena semakin hari rakyatnya semakin tidak paham apakah pemerintahnya berhasil atau gagal. Semakin tidak memiliki kepekaan dan sasmita apakah mereka dicintai atau tidak oleh pemerintahnya. Semakin kehilangan ukuran apakah dari pemerintahnya mereka sedang memperoleh kesetiaan dan semangat pengabdian, ataukah pengkhianatan dan proses-proses penghancuran.

Sungguh siapa saja yang duduk dalam struktur pemerintahan negeri ini adalah "Kiai Bejo", "Kiai Untung" atau "Kiai Hoki". Orang yang mendapatkan keuntungan meskipun tanpa bekerja. Salah satu pameo membuat rumus: orang bodoh kalah oleh orang pandai, orang pandai kalah oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh orang kaya, orang kaya kalah oleh orang "bejo".

Setiap pemerintah Indonesia tidak terlibat dalam konstelasi pameo itu, sebab mereka sekaligus pandai, berkuasa, kaya dan "bejo".(Emha Ainun Najib)

Tuesday, July 17, 2007

Abdul Manan dan Abdul Wadud Arrombengy

Kaum folkloris, di waktu senggangnya, suka bercerita iseng tentang yang lucu-lucu dari berbagai etnik. Misalnya tentang orang Madura, satu dari suku-suku di muka bumi yang saya kagumi.
Orang suka 'sentimen' terhadap mereka. Padahal mereka itu paling jago argumentasi. Bahkan dalam diplomasi, mereka bisa jauh lebih dingin dibanding politisi Jawa.

Misalnya kalau anda rewel terhadap harga jualannya, ia malah berkata: "Soalnya saya ini baru saja keluar dari penjara."
Anda bertanya, "Lho apa hubungan antara harga dengan penjara?"
Ia jawab, "Ya ndak usah dihubungkan".
Anda penasaran, "Kenapa bapak dipenjara?"
Ia menjawab dengan nada amat kalem, "Ya karena nylurit orang kaya sampeyan ini......" Maka sebaiknya anda secepatnya lari tunggang-langgang.

Atau ketika anak Madura itu ditangkap Polisi karena naik motor tak punya SIM, Polisi membentak, "Kok ini SIM-nya orang lain?"
Ia menjawab, "Lho yang saya pinjami SIM saja ndak marah, kok Pak Polisi marah!".

Atau yang paling saya kagumi, ketika seorang tukang becak Madura melanggar lampu merah di perempatan sehingga sebuah mobil dari jalan silang kerepotan ngerem dan maki-maki: "Tukang becak goblog! sudah tahu merah kok jalan terus saja! Goblok! Goblok!".
Sang tukang becak tenang-tenang saja menjawab acuh tak acuh "Yaa kalau ndak goblog ndak mbecak saya Pak..."
Padahal saya tahu persis tidak ada bangsa yang goblog. Setidaknya kegoblogan tidak bisa menjadi ciri dari suatu suku bangsa, apalagi Madura. Bis yang saya langgani, kalau pulang ke Jombang dari Yogya, adalah bis paling bagus, sopirnya terampil tapi tertib, tidak rakus, amat disukai penumpang dan kami tahu itu berasal dari sebuah perusahaan dengan sistem manajemen dan dan moralitas bagus yang dipimpin secara amat santun oleh seorang juragan Madura.

Abdul Manan, asli Sumenep itu, memang tukang becak, seperti juga rekannya dari Jawa, Makasar, Bali dan lain-lain. Tapi Abdul Wadud sejak bertahun-tahun yang lalu meningkatkan statusnya sebagai tukang becak menuju status yang lebih berekonomi tinggi. Ia himpun modal dan akhirnya berhasil jualan barang rombengan kaki lima yang omsetnya ratusan ribu.

Pada suatu hari kena gusur, barang-barangnya 'dimusnahkan' dan ia tenang-tenang saja, "Ya balik mbecak lagi, Mas. Lha saya ini memang orang kecil, yang nggusur itu orang besar".
Yang paling saya kagumi, tapi sekaligus saya prihatinkan, ia tidak sedih oleh keadaan itu. Ia biasa saja, dan kembali menghimpun modal. Ia mampu mengikhlaskan barang-barangnya 'dimusnahkan' menjadi beberapa ratus ribu rupiah, di tangan orang-orang besar.(Emha Ainun Najib)

Tuesday, July 3, 2007

Tanganmu, Ibu

Ibumu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan

(Emha Ainun Najib)

Siang sudah sampai pada pertengahan.
Dan Ibu begitu anggun menjumpai saya di depan pintu.
Gegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama.
Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama.
"Alhamdulillah, kamu sudah pulang" itu ucapannya kemudian.
Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh bersih.
Sudah lama tidak pulang.

Ba'da Ashar,

"Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih".
Gegas saya angkat pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya.
"Ah mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja" pikir saya

"Eh, tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram".
Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya.
Saya memindahkannya ke halaman depan dengan mudahnya.
Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu.
Subur dan terawat.
Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.

"Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar yah" pinta Ibu.

"Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam" sekilas saya memandang Ibu yang tengah bersusah payah memasak.
Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.

Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang dari ziarah. "Neng.." itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya.
"Bu, siapa itu.?" tanya saya.
"Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang" pendeknya.
Dan saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga.
Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.

Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya tilawah selepas maghrib.
Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur'an.
Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya.
Keriput, urat-uratnya menonjol jelas, bukan itu yang membuat saya tertegun.
Tangan itu terus bergetar.
Saya berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal?

"Dingin" bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya.
Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya.
Saya memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.

Adzan isya berkumandang,

Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam.
Tak lama suaranya memenuhi udara mushala kecil rumah.
Seperti biasa surat cinta yang dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq.

Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya pandangi lagi tangannya yang terus bergetar.
"Duh Allah, sayangi Mamah" spontan saya memohon.
"Neng." suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depan saya, kebiasaan saat selesai shalat, saya rengkuh tangan berkah itu dan menciumnya.

"Tangan ibu kenapa?" tanya saya pelan.
Sebelum menjawab, ibu tersenyum maniss sekali.

"Penyakit orang tua"

"Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga" tambahnya.

Udara semakin dingin.
Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga.
Saya memandangnya dari teras depan rumah.
Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi.
Malam perlahan beranjak jauh.
Dalam hening itu, saya membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat isya tadi.
Apa maksudnya?
Dan mengapakah, saya seperti melayang.
Telah banyak hal yang dipersembahkan tangannya untuk saya.
Tangan yang tak pernah mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalan saya.
Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya tergesa pergi sekolah.
Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika saya mencari kekuatan di pangkuannya saat hati saya bergemuruh.
Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang saya jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja belajar saya ketika saya masih kecil yang katanya biar saya lebih semangat belajar.

Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya, suratnya selalu saja datang.
Tulisan tangannya kadang membuat saya mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m nya mirip sekali.
Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung.
Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri.
Ada sebuah puisinya yang saya sukai.
Ibu memang suka menyanjung :

Kau adalah gemerlap bintang di langit malam
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,
Bukan!, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta
Itu saja.

Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan.
Itu yang saya baca dari sebuah buku.
Jika saya renungkan, memang demikian.
Tangan seorang ibunda adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan..
Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan? Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup?
Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita? Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya?..
Pernahkah..?

Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya "Bu, ikutlah ke jakarta, biar dekat dengan anak-anak".
"Ah, Allah lebih perkasa di banding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini.
Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang"
Jawabannya ringan.
Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi.
Ibu tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak Allah.
Sebelum pergi, saya merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat , saya reguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untuk saya.
Selagi sisa waktu yang saya punya masih ada, tangannya saya ciumi sepenuh takzim.
Saya takut, sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di kening.

***

Bagaimana dengan kalian para sahabat?
Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau ada, duduk di depan komputer dan membaca tulisan saya ini.
Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang menjadi kebanggaan. Engkau sangat tahu, dibanding siapapun juga.
Maka, usah kau tunggu hingga tangannya gemetar, untuk mengajaknya bahagia.
Inilah saatnya, inilah masanya.
(Emha Ainun Najib)